Konsep Kematian ditinjau dari Ilmu Biologi dan Antropologi

  


Sumber gambar : https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00169854.html

Mortal immortals, immortal mortals, Living each other’s death and dying each other’s life Fragment 46, Heraclitus (2001)

            Pada hari Senin tanggal 17 November, saya mencoba untuk mengobrol dengan Afghan Azka Falah via whatsapp.  Obrolan itu dimulai mulai dari saya bertanya tentang kabarnya, ada rasa  sedikit agak canggung karena saya belum pernah mengobrol bahkan ketemu secara langsung sejak saya kenal dengannya. Begitupun dengan Azka yang merasa tumben sekali saya chating dengan dirinya, yang biasanya saya ataupun Azka hanyalah penonton story whatsapp.  Sedikit basa-basi juga saya tanyakan mulai dari kesibukannya saat ini dan dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai konsep kematian dilihat dari ilmu biologi. Sedikit tentang biografi dari Azka yang diberikan kepada saya adalah dirinya mengawali pendidikan SD Muhammadiyah 1 Kudus, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kudus, lalu melanjutkan di SMA 1 Kudus. Setelah lulus dari SMA, Azka melanjutkan pendidikannya di UGM pada tahun 2017 , dan sampai sekarang Azka tercatat sebagai mahasiswa semester tujuh di fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Pengalamannya di organisasi sudah tidak diragukan lagi. Dari tahun 2017 Azka telah menduduki posisi jabatan yang penting di berbagai organisasi. Mulai dari masuk ke BEM KM UGM, Azka telah menjabat sebagai Staff Sekretaris Kabinet pada tahun 2017, Dirjen Kerumahtanggaan  Sekkab, Dirjen Investasi Kemenkeu, Inspektorat Jendral bidang 1 Kemenkeu. Selanjutnya di Organisasi JMMB UGM, Azka menjabat sebagai Staff sekretaris. Pada organisasi Menara-GAMA Azka menjabat sebagai kepala departemen Kewirausahaan. Pada lembaga KPUM UGM 2019 Azka juga menduduki sebagai ketua, dilanjutkan pada IMM UGM ia sekarang menjabat sebagai ketua umum coordinator komisariat IMM UGM. Serta pada situasi covid Azka juga menjabat sebagai kesekretariatan pada Muhammadiyah Covid-19 Commond Center Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain itu banyak pelatihan/ training yang pernah ia ikuti mulai dari Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi UGM, Pelatihan Hewan laboratorium, Sekolah Kesekbendan, Moss Terrarium Workshop, Sekolah Fotografi. Sehingga Azka memiliki ketrampilan yang banyak sehingga menunjang dalam  berorganisasi. Ketrampilan yang dikuasai Azka antara lain Kesekbendan : Administrasi, Inventarisasi, Kearsipan, Kebendaharaan, selanjutnya pada Pengolahan data melalui mic.excel, desain grafik sederhana, teknik dasar fotografi, Desain presentasi dan grafis, dan pengetahuan dasar administrasi laboratoroium.

            Ngobrol saya dengan Azka diawali dari pertanyaan bagaimana konsep kematian menurut biologi, hal itu dipertanyakan karena basic dia sebagai seorang mahasiswa biologi. Dalam penjelasannnya,  kematian dalam biologi adalah saat fungsi fisiologis organ tubuh vital dan atau seluruh organ tubuh kehilangan fungsinya, sehingga tidak dapat menyokong keberlangsungan hidup. Sebagaimana ciri-ciri kehidupan setidaknya melakukan metabolisme dan bernafas, merespon rangsang, makan dan minum,  ekskresi, dan lain sebagainya, sehingga apabila kebutuhan dasar hidup ini tidak terpenuhi, maka orang dikatakan mati. Akan tetapi dalam proses wawancara Azka sedikit lupa dengan tokoh dari konsep kematian ini, sehingga dirinya memberi saran kepada saya untuk searching di google dengan judul ‘fisiologi manusia’, kemudian percakapan  diselesaikan dengan Azka memberikan file biografi kepada saya. Sebagaimana dalam konsep fisiologi yang dikemukakan oleh Lauralee Sherwood from cell to system yang  mempelajari tentang fungsi makhluk hidup, di mana pendekatan ini menjelaskan fungsi tubuh dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, menekankan “mengapa” proses tubuh terjadi.

Terdapat beberapa sub bab yang disorot dalam fisiologi manusia ini yaitu Physiology focuses on mechanism of action, di mana Ahli biologi memandang tubuh sebagai mesin yang mekanisme aksinya dapat dijelaskan dalam urutan sebab-akibat dari proses fisika dan kimia seperti jenis proses yang sama terjadi di seluruh alam semesta. Sejalan dengan itu fungsi fiologis tidak dapat dipisahkan dengan anatomi yaitu ilmu yang mempelajari struktur tubuh yang dibahas dalam bab structure and function are inserapareble. Kemudian dalam bab selanjutnya tentang Level of Organisation of the Body,  di mana dalam hal ini mejelaskan mengenai tubuh yang secara structural diatur dari tingkat kimiawi hingga pada tingkat organisasi yang diatur dalam sub bab The chemical level: various atoms and molecules make up the body, The celluler level: Cells are  the basic units of life, The tissue level : Tissues are groups of cell of similar specialization. Selajutnya dalam konsep homeostasis sel-sel dalam organisme multisel tidak dapat hidup dan berfungsi tanpa kontribusi dari sel tubuh lain, hal itu dikarenakan sebagian besar sel tidak bersentuhan langsung dengan lingkungan luar (Sherwoord, 2010).

Kemudian saya melihat konsep kematian dari prespektif antropologi, di mana kematian tidak hanya sekedar dari penghentian fungsi tubuh, akan tetapi juga sebagai peristiwa sosial. Setiap makhluk hidup akan mati, seperti yang dituliskan dalam agama Islam bahwa “setiap yang bernyawa akan mati”, akan tetapi mati bukan hanya sekedar mati, mati merupakan proses transformasi, potensi, dan permulaan. Dalam konsep kematian, Pertama antropologi memandang kematian sebagai transformasi kehidupan. Sejalan yang dikemukakan oleh Hertz bahwa kematian sebagai proses transisi. Hertz mengatakan orang yang telah mati akan mengalami transisi sebagai sebuah kelahiran kembali ke tempat memoriam yaitu akhirat. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Van Gennep yang telah berhasil mengumpulkan data ritual kematian yang menunjukkan adanya transisi dari kehidupan ke kematian. Pemindahan tubuh seorang kedalam tanah, seperti halnya praktik penguburan menunjukkan adanya transisi di mana hal ini bertujuan untuk memindahkan jiwa ke dunia lain. Dalam hal ini proses pemindahan diidentifikasikan oleh Hertz sebagai pesona dramatis, yang mana Hertz membagi menjadi tiga pesona yaitu dimensi metafisik, dimensi emosional, dan kepunahan akhir, sehingga petugas ritual memungkinkan untuk membangkitkan kembali orang yang telah mati dan dilahirkan kembali dengan cara yang berarti bagi yang ditinggalkan, seperti halnya reinkarnasi.

Kedua, Transformasi kematian di mana dalam hal ini dukun menjadi penghubung antara orang mati dan orang yang masih hidup. Dukun sebagai perantara,  di mana  dialog antara dukun dengan orang mati meliputi penyakit, yang dipicu oleh keterikatan akan kehilangan dari kematian seseorang, . Sehingga dalam hal ini Vitebsky menyimpulkan bahwa kematian bukan pengingkaran kehidupan, melainkan transformasi dan kontinuitasnya. Seperti yang ditunjukkan dalam masyarakat eropa, di mana dalam seribu tahun terakhir kematian mengalami transformasi. Transformasi kematian itu dilihat dari perubahan perlakuan terhadap kamar mayat, batu nisan, surat wasiat, karya seni, sastra.

           Ketiga, Kematian dan Biomedis Kontemporer  :   konsep kematian otak menurut Margaret Lock memungkinkan ketidaksesuaian antara kematian sosial dan biologis, karena dalam dunia biomedis kematian dianggap sebagai hal yang sangat jelas yaitu berhentinya pernafasan dan denyut jantung. Sedangkan secara sosial kematian itu adalah permulaan dari sebuah kehidupan yang baru . Munculnya intervensi teknologi terhadap kematian membuat istilah kematian tidak hanya berhentinya pernafasan dan denyut nadi, akan tetapi lebih melihat pada kematian sel-sel yang ada di otak. Pergeseran istilah ini dikarenakan masih ditangani ahli biomedis dengan mengganti fungsi tubuh manusia satu/ sudah sekarat yang bersedia mendonorkan organnya kepada saudara dekat, sehingga terjadilah transplantasi.

Keempat, keabadian baru yaitu kematian yang dikatakan sebagai transformasi, permulaan tampaknya sudah mulai terlihat dari seseotrang yang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Dalam kerangka sekuler tentang kematian, kemsatian dipisahkan dari agama, dalam contoh kasusnya adalah transpalantasi organ. Hal ini begitu unik di mana cara teknologi bahwa organ tersebut dapat hidup di luar tubuh.  Selain itu pada kehidupan yang setelah kematian terjadi. Kemagtian tidak hanya dipandang sebagai proses sosial dan biologis, akan tetapi kematian juga menyangkut masalah negara. Dalam hal ini masuk kedalam konsep kelima yaitu  Thanato politik : dalam sub bab Thanato ini membahas mengenai kematian dan negara, di mana dalam hal ini Faoucault mengidentifikasi sebagai biopolitik mencakup administrasi kematian. Salah satu bentuk Thano politik itu adalah upaya untuk menjaga kebersihan rasial yang dilakukan oleh sosialisme nasional tahun 1930. Hilangnya kewarganegaraan adalah sebuah sebutan untuk kematian telanjang. Dimana hilangnya kewarganegaraan diikuti oleh kata telanjang adalah sebuah penodaan orang yang tidak bertanda baik. Salah satu tanggapan antropologis terhadap penggunaan kekerasan negara adalah upaya untuk memulihkan secara di mana kematian dikelola dan diberi makna oleh mereka yang tertinggal. Di sini kita berurusan dengan apa yang Hertz sebut sebagai kematian yang tidak menguntungkan atau 'buruk' (Hertz 1960 [1907]). Ini adalah kematian di mana orang-orang yang selamat seringkali tidak dapat melakukan ritual pembuangan dan perkabungan yang sesuai dan menjadi putus asa pada keadaan kehilangan dan perpisahan yang mereka alami.

Konsep terakhir adalah akhirat, di mana dalam perjalanan singkat ke dalam antropologi kematian ini, dua tema yang berulang secara kuat menonjol. Pertama adalah bahwa cara manusia memahami kematian selalu terkait erat dengan pertanyaan tentang bagaimana mereka hidup. Kedua adalah bahwa karya imajinasi kreatif bekerja untuk mengubah kematian menjadi pernyataan perayaan tentang kesinambungan dari satu jenis atau lainnya. 

References :

https://www.anthroencyclopedia.com/entry/death

Sherwood, L. (2015). Human physiology: from cells to systems. Cengage learning.

 Sumber gambar : https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00169854.html

Komentar