Transformasi Tabungan : Pengalamanku menabung mudah hanya satu kali klik

     Ketika saya masih di usia SD saya selalu dibelikan celengan yang berbentuk buah-buahan untuk menyisihkan sebagian uang jajan saya untuk ditabung ke celengan tersebut. Akan tetapi tidak genap satu minggu celengan itupun tidak ada isinya alias kosong melompong seperti baru lagi. Ya sangat sulit bagi saya rasa menahan ego untuk tidak mengambil uang dan membelikannya jajan ataupun mainan. Dan hal itupun juga terjadi hingga saya dewasa, sehingga saya rasa cara menabung itu tidak cocok bagi saya untuk menyimpan uang. Karena saya memiliki keinginan untuk menabung semenjak saya bisa menghasilkan uang, saya pun termasuk kedalam orang-orang yang pernah berpikir bahwa menabung yang baik adalah dengan cara membeli emas, di mana pada saat itu saya hanya bisa membeli emas 22 karat yang harganya lebih murah, dengan harapan emas itu akan menjadi tabungan saya kelak. Akan tetapi akses untuk membeli sepotong emas membutuhkan waktu yang lama, di mana toko emas hanya bisa saya jumpai di pasar dan parahnya lagi pasar ditentukan oleh hari yang berarti tidak setiap hari ada pasar. Hal itupun kerapkali mengurungkan niat saya untuk membeli emas, sehingga uang yang telah saya kumpulkan ambrul abdul entah kemana, habis dan tak tersisa.

Setelah saya rasa hal tersebut cukup membuat saya kesal karena tidak punya uang dan tabunganpun tidak bertambah, saya memutuskan untuk menggunakan cara lama dengan menabung deposito. Namun lagi-lagi di era yang bisa dibilang eranya “orang males” saya pun tidak dapat menahan keinginan untuk top up shopee dan top up ovo menggunakan uang tabungan tersebut untuk membeli hal-hal kadang tidak guna dan membeli jajanan diskon di grabfood dengan satu kali klik tanpa saya harus berpindah dari kamar kos saya. Saya senang dapat menikmati semua itu, akan tetapi pada satu sisi saya juga sedih apabila diakhir bulan kiriman dari orangtua belum kunjung cair dan saya terpaksa membuka kembali stok mie yang telah saya beli jauh-jauh hari untuk menghadapi situasi genting saat akhir bulan. Pada saat yang sama saya teringat teman saya yang melakukan trading bitcoin sejak zaman SMP, saya pun seketika mencoba browsing dan memahami terkait dengan mata uang crypto dan platform apa saja yang bisa saya gunakan untuk bisa trading, hingga saya menemukan aplikasi yang terbilang aman dan mudah untuk pembelian asset coin yaitu indodax. Sayapun mencoba mempelajari bagaimana mendapatkan keuntungan melalui pembelian coin crypto, di mana seperti yang diketahui crypto ini nilainya sangat fluktuatif, sehingga harus pintar dan selalu terjaga dengan grafik yang naik turun untuk setidaknya mempertahankan asset yang dimiliki. Setelah sebulan saya hanya mendapatkan profit yang rendah dan memerlukan banyak waktu untuk memantau grafik, sayapun memutuskan untuk menjual asset saya dan menyisakan entah hanya berapa puluh ribu saja.

Pada akhirnya saya diperkenalkan oleh teman saya sebuah aplikasi yang menurut saya cukup mudah untuk menabung, yaitu kembali ke cara lama menabung emas, akan tetapi dengan cara yang sangat mudah dan bahkan hanya dengan rebahan. Satu kali klik dan tidak memerlukan uang yang banyak untuk dapat membeli emas, dimanapun dan kapanpun bisa melakukan yaitu dengan menggunakan aplikasi pegadaian digital. Eits..jangan salah pegadaian tidak hanya untuk menggadaikan barang-barang saja, akan tetapi kita juga bisa membeli emas dengan cara mencicil. Seringkali saya membeli emas melalui aplikasi ini dengan uang yang terbilang kecil, yaitu Rp 10.000,- di mana uang sekecil ini sudah mendapatkan 0,01 gram emas. Dengan hanya bermodalkan Rp 10.000,- dan tanpa berpindah dari kasur saya dapat membeli emas, yang mungkin bagi sebagian besar orang berpikir membeli emas membutuhkan modal yang besar dan akses yang memakan waktu. Terdapat berbagai alasan mengapa saya akhirnya memutuskan cara ini untuk menabung selain modal yang dapat saya jangkau, harga emas di pegadaian yang terbilang miring dan perusahaan BUMN yang ada kantornya di setiap daerah, sehingga saya merasa aman dan nyaman menabung di pegadaian.

Transformasi tabungan merupakan salah satu bukti adanya kemudahan akses dalam menabung. Kemudahan akses tersebut dapat dilihat pada tiga hal. Pertama, orang tidak perlu lagi mencari wadah yang dapat digunakan untuk menyimpan uang. Kedua, orang mulai merubah cara menabung dari deposito ke investasi dengan membeli asset seperti saham. Dahulu orang menabung  dengan membeli barang-barang seperti emas, tanah, sawah, hewan, toko, atau hal lainnya yang bernilai lebih tinggi ketika dijual di masa depan. Hal itupun yang membuat hanya orang-orang dengan ekonomi menengah keatas yang dapat menabung, sehingga ungkapan “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” kemungkinan besar terjadi di zaman dahulu. Misalnya investasi emas yang hanya bisa dilakukan oleh para pekerja yang memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk memenuhi biaya kehidupan sehari-hari, meskipun prinsip menabung bukan didasarkan atas pekerjaan akan tetapi manajemen keuangan dari setiap individu. Akan tetapi semua itu seakan berubah seiring dengan semakin berkembangnya teknologi dan digitalisasi. Ketiga, digitalisasi masyarakat dengan tersedianya berbagai aplikasi menabung, membeli asset, bahkan investasi yang dapat diinstall oleh semua orang dengan menggunakan handphone. Sehingga tabungan tidak hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki harta lebih, melainkan pula pada masyarakat menengah kebawah yang sudah melek akan kemudahan teknologi. 

Komentar